Ini kisah nyata dari wartawan yang sedang bertugas meliput kegiatan gubernur Sultra, di Kabupaten Buton Utara (Butur), Sultra.
Saat itu, sedang ada kegiatan pencanangan jalan. Seperti biasa, acara para pejabat pasti berlangsung normatif dan protokolis.
Seperti biasa juga, serangkaian seremoni tersebut ditutup dengan pembacaan doa. Siang itu, salah seorang pejabat Butur, maju menjadi pembaca doa.
Lalu, mulailah dia membaca doa, satu menit, dua menit hingga menjelang lima menit, doa orang tersebut belum selesai. Gubernur sudah mulai kelihatan gerah, begitupun pejabat dan hadirin lainnya.
Seorang staf protokoler Pemprov berinisiatif memperingatkan pembaca doa tersebut agar meringkas doanya “Pak, jangan terlalu panjang,” ujarnya.
Tapi si pembaca doa itu, terus saja tancap gas.
Lalu, dia ditegur lagi oleh staf protokoler itu, “Pak, sudah, pak sudah,”… Tapi pembaca doa itu, masih saja lanjut, karena doanya masih tersisa dua lembar ukuran kwarto, font times new roman ukuran 10 dan kerapatan spasi 1.
Karena gelagat para pejabat semakin tidak sabaran, lalu staf protokoler Sultra itu, kembali memberikan peringatan yang kali ini sudah lebih keras kepada pembaca doa itu. “Pak sudah,, sudah,”..
karena diperingatkan begitu, si pembaca doa yang sedang khusuyuk ini, tiba-tiba berhenti membacakan doanya sembari berkata. “Kalau begitu, Rabbana Atinna fiddunia hasanah, wafil……….,” kontan saja karena mendengar kalimat “kalau begitu” yang disebutkan dengan keras, maka para wartawan dan hadirin tertawa terbahak-bahak, sedangkan para pejabat hanya bisa tersungging saja. (***)
wellcome to my blog.
hanya sekedar sharing buat kita semua.
arsyad Said:
on November 15, 2009 at 11:55 pm
beghh.. bagus postingannya pwa..
bisa jadi inspirasi untuk para pembaca doa dimana saja..
jangan sampai hadirin kelaparan karena menunggu doa selesai…